Beranda > Uncategorized > KEUTAMAAN TAUHID

KEUTAMAAN TAUHID

Berbicara tentang keutamaan tauhid sebenarnya terkandung unsur kewajiban untuk bertauhid. Sebab tidak berarti bahwa adanya keutamaan pada sesuatu berarti bahwa sesuatu itu tidak wajib, karena keutamaan merupakan hasil atau buah yang ditimbulkan. Seperti sholat jamaah yang telah jelas keutamaannya dalam hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

Shalat jamaah lebih utama daripada shalat sendiri, dua puluh tujuh derajat. (HR Imam Bukhari [Kitab Adzan, bab Keutamaan Shalat Jamaah] dan Imam Muslim (Kitab Al Masajid [masjid-masjid], Bab Keutamaan Shalat Jamah) Keutamaan yang ada pada shalat jamaah ini tidak berarti bahwa shalat jamaah ini tidak wajib.
Jadi tidak selalu berarti bahwa ketika kita berbicara tentang keutamaan tauhid berarti tauhid itu tidak wajib, sebab tauhid adalah kewajiban yang paling pertama. Tidak mungkin suatu amal akan diterima tanpa tauhid. Tidak mungkin seorang hamba bertaqarrub kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa tanpa tauhid. Sekaligus bahwa tauhid juga memiliki keutamaan.
Faidah tauhid sangat banyak, diantaranya:
1. Tauhid adalah penopang utama yang memberikan semangat dalam melakukan ketaatan kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa; sebab orang yang bertauhid akan beramal untuk dan karena Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa, baik ketika ia sendiri maupun ketika bersama orang banyak. Sedangkan orang yang tidak bertauhid, misalnya seperti orang yang riya`, ia hanya akan bersedekah, shalat dan berdzikir kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa kalau ada orang yang melihatnya. Oleh karena itu sebagian ulama salaf mengatakan: Sesungguhnya saya sangat ingin bertaqarrub kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa dengan melakukan ketaatan yang hanya diketahui oleh Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa. 2. Orang-orang yang bertauhid akan mendapatkan ketenangan dan petunjuk, sebagaimana firman Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa:
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS Al Anaam ayat 82)
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan: Mereka adalah orang-orang yang memurnikan ibadah hanya kepada Nya semata yang tidak ada sekutu bagi Nya, dan mereka tidak menyekutukan Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa sedikitpun dalam berbagai hal. Mereka itulah yang akan mendapatkan keamanan pada hari Qiamat dan mendapatkan petunjuk di dunia dan akhirat.
Syekh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin hafizhalullah- mengatakan: Firman Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa (Wahum Muhtaduun; dan merekalah orang-orang yang mendapatkan hidayah) maksudnya di dunia, (mendapatkan hidayah) menuju syariat Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa dengan ilmu dan amal. Mendapat hidayah dengan ilmu adalah hidayah irsyaad, sedangkan mendapat hidayah dengan amal adalah hidayah taufiq. Mereka juga mendapatkan hidayah di akhirat menuju surga. Hidayah di akhirat ini, untuk orang-orang yang zhalim (mereka mendapatkan hidayah) jalan menuju neraka jahim, sebaliknya untuk orang-orang yang tidak zhalim mendapat hidayah jalan menuju surga (yang penuh kenikmatan). Banyak diantara ulama tafsir yang mengatakan tentang firman Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa ( ) mereka adalah orang-orang yang mendapatkan rasa aman: Rasa aman itu di akhirat sedangkan hidayah itu di dunia. Pendapat yang lebih tepat bahwa rasa aman dan hidayah itu bersifat umum, baik di dunia maupun di akhirat.
Ketika ayat ini turun dirasakan berat oleh para sahabat -radliyallaahu ‘anhum-. Mereka mengatakan: Siapakah diantara kita yang tidak menzholimi dirinya sendiri ? Kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan: Maksud ayat tersebut bukan seperti yang kalian kira, yang dimaksud zholim dalam ayat tersebut adalah syirik, tidakkah kalian mendengar perkataan lelaki yang sholeh, Luqman:

Sesungguhnya syirik adalah kezhaliman yang sangat besar. (QS Luqman: 13) Ada beberapa jenis zholim:
1) Zholim yang paling besar yaitu syirik dalam hak Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa.
2) Zholim yang dilakukan seseorang terhadap dirinya sendiri, dengan tidak memberikan haknya, seperti orang yang berpuasa dan tidak berbuka, orang yang shalat malam terus dan tidak tidur.
3) Zholim yang dilakukan seseorang terhadap orang lain, misalnya memukul, membunuh, mengambil harta dan lain-lain.
Jika tidak ada kezholiman maka akan terwujud keamanan. Namun apakah keamanan yang smepurna ?
Jawabannya: jika imannya sempurna dan tidak dicampuri mashiyat maka akan terwujud rasa aman yang mutlak (sempurna), jika iamnnya tidak sempurna maka yang akan terwujud adalah rasa aman yang kurang juga. Contohnya: Orang yang melakukan dosa besar. Ia akan aman dari ancaman tinggal kekal di neraka, tetapi tidak aman dari adzab yang akan menimpa dirinya, tergantung kehendak Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa (apakah diampuni atau di adzab?). Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman:

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. (QS An Nisaa` ayat 116)
Ayat ini (QS Luqman ayat 13) Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa nyatakan sebagai pemutus antara Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam dengan kaumnya ketika beliau mengatakan kepada mereka:

Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui? (QS Al Anam: 81)
Kemudian Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman:

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS Al Anaam ayat 82)

SYIRIK
Pembatal ke-Islaman seseorang yang paling besar adalah syirik kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa. Oleh karena itu kita temukan dalam al Qur`an Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa mengingatkan kita (agar menjauhkan) syirik, orang-orang yang melakukan syirik dan akibat yang akan mereka rasakan, dalam banyak ayat. Lafadz syirik dan bentukannya disebutkan berulang-ulang dalam al Qur`an lebih dari 160 kali. Demikian juga dalam sunnah, kita temukan sangat banyak hadits-hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan bahayanya.

PENGERTIAN SYIRIK
Menurut bahasa: Syirik adalah sebuah kata yang digunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang terjadi antara dua orang atau lebih. Menurut istilah syari: Syirik kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa maksudnya menjadikan sekutu bagi Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa, baik dalam rububiyahnya ataupun uluhiyahnya, tetapi istilah syirik lebih sering digunakan untuk syirik dalam uluhiyahnya.
Atau: menyamakan selain Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa dengan Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa dalam hal-hal yang menjadi hak Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa.

HUKUM SYIRIK
Syirik adalah larangan Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa yang paling besar. Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman dalam surat An Nisaa` ayat 36:

Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Syirik juga merupakan perbuatan haram yang pertama (harus
ditinggalkan). Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman dalam surat Al Anaam ayat 151:

Katakanlah: Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya).

PENGGUNAKAN KATA SYIRIK
Jika anda mendapat istilah syirik dalam buku aqidah maka maksudnya bisa berarti syirik akbar atau syirik ashghar. Maka anda jangan menghina orang-orang yang mendakwahkan tauhid bahwa mereka selalu menghukumi segala sesuatu dengan syirik. Fahamilah setiap ungkapan pada tempatnya yang tepat.
Oleh karena itu anda perlu mengetahui bahwa syirik dalam pengertian syarI digunakan untuk tiga makna:
1. Meyakini ada sekutu bagi Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa dalam kekuasaan, rububiyah, mencipta, memberi rizqi dan mengatur alam. Siapa yang meyakini bahwa ada orang yang mengatur alam ini dan mengatur seluruh urusannya, maka ia telah menyekutukan Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa dalam rububiyah dan telah kafir kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa. Dalil-dalil (argumen-argumen) yang menunjukkan bathilnya keyakinan akan adanya dzat lain selain Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa yang memiliki hak rububiyah sangat banyak dan begitu jelas, baik dalil yang bisa kita saksikan dari alam ini maupun dalil sami (al Qur`an dan as Sunnah). Diantaranya firman Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa dalam surat Saba` ayat 22:

Katakanlah: Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.
Syirik jenis ini tidak terjadi pada semua orang kafir di zaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian mereka meyakini bahwa Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa adalah pencipta dan pengatur alam. Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman:
Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan? Tentu mereka akan menjawab: Allah, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar). (QS Al Ankabut: 61)

Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami (nya). (QS Al Ankabut: 63)
2. Meyakini adanya dzat selain Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa yang bisa memberikan manfaat atau madlarat, dzat ini merupakan perantara antara Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa dan makhluq, maka sebagian jenis ibadah ditujukan padanya. Inilah yang dinamakan syirik dalam uluhiyyah. Syirik inilah yang banyak dilakukan oleh orang-orang kafir Quraisy. Mereka mengatakan tentang sembahan mereka
(mereka berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. (QS Az Zumar: 3)
Inilah keyakinan yang tersebar di kalangan mereka, sebagaimana friman Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa dalam surat Ghafir ayat 12:
Yang demikian itu adalah karena kamu kafir apabila Allah saja yang disembah. Dan kamu percaya apabila Allah dipersekutukan, maka putusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa menceritakan keadaan mereka dalam surat Shaad: 4-5 ()
Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: “Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta. Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.
Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa menceritakan bahwa tauhid kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa dan meninggalkan syirik adalah sebab diutusnya para rasul. Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman dalam surat Ar Ra`d ayat 36:

Katakanlah: Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Dia. Hanya kepada-Nya aku seru (manusia) dan hanya kepada-Nya aku kembali.
Syirik akan merusak dan menghapus semua amal dan hal ini berlaku pada seluruh umat. Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman dalam surat Az Zumar ayat 65:
Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Oleh karena itu Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa memerintahkan
(hamba-hamba Nya) untuk beribadah kepada Nya dan melarang menyekutukan (syirik kepada) Nya dalam banyak ayat:

Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. (QS An Nisaa` ayat 36)

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu, (QS An Nahl ayat 36)
()
Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu. dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus. (QS Yasiin ayat 60-61)
3. Mempertimbangkan (dapat perhatian, pujian dan lain-lain) dari selain Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa dalam perkataan maupun perbuatan. Adapun mempertimbangkan perhatian atau pujian dalam perbuatan seperti riya yang dilakukan oleh orang yang rajin ibadah, misalnya ketika shalat, ia panjangkan berdiri, ruku dan sujudnya kemudian ia tampakkan kekhusyuannya di hadapan orang banyak, ketika ia puasa, ia tampakkan bahwa dirinya sedang puasa, misalnya dengan mengatakan: Apa anda tidak tahu bahwa hari ini Senin (atau Kamis) ? Apa anda tidak puasa ? Atau ia katakan: Hari ini saya undang anda untuk berbuka puasa bersama ? Demikian pula haji dan jihad. Ia pergi haji dan jihad tetapi tujuannya riya`.
Riyanya orang-orang yang cinta dunia seperti orang yang angkuh dan sombong ketika berjalan, memalingkan mukanya atau menggerakkan kendaraannya dengan gerakan khusus.
Riya` dengan teman atau orang yang berkunjung ke rumahnya, seperti orang yang memaksakan diri meminta seorang alim atau seorang yang dikenal ahli ibadah untuk datang ke rumahnya agar dikatakan bahwa fulan telah mengunjungi rumahnya, atau sebaliknya ia kunjungi mereka (orang-orang alim dan ahli ibadah) agar dikatakan bahwa kami telah mengunjungi fulan atau kami telah bertemu dengan alim fulan dan yang lainnya.
Sedang riya dengan perkata yang dilakukan oleh orang-orang ahli agama seperti orang yang memberikan nasehat di majlis-majlis, kemudian ia menghafal hadits-hadits dan atsar-atsar khusus untuk acara-acara tertentu agar bisa berbicara dan debat dengan orang-orang, sehingga tampak di hadapan mereka bahwa ia memiliki pengetahuan tentang hal-hal tersebut, tampak di hadapan mereka bahwa ia memiliki ilmu yang kuat dan perhatian yang besar terhadap keadaan ulama-ulama salaf, tetapi ketika kita lihat di rumahnya bersama keluarganya, ia adalah orang jauh dari keadaan tersebut. Contoh lain adalah menggerak-gerakkan kedua bibir untuk berdzikir di hadapan orang banyak dan menampakkan kemarahan terhadap kemunkaran di hadapan orang, tetapi ketika ia berada di rumah ia tidak mengingkari atau lalai melakukan hal tersebut.
Semua perbuatan ini mengurangi kesempurnaan tauhid dan ikhlas. Sangat banyak dalil-dalil yang menunjukkan tercelanya perbuatan ini, diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Said al Khudri, ia berkata: Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
: : , : . Maukah kalian saya beritahu tentang perbuatan yang bagi saya itu lebih saya takuti daripada Al Masih Ad Dajjal? Kami katakan: Ya, Ia berkata: Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Syirik khafiyy (yang tersembunyi) yaitu seseorang mengerjakan shalat kemudian ia perbaiki shalatnya karena ia mengetahui ada orang yang melihatnya. (Menurut Syaikh Al Albani rahimahullah hadits ini hasan. Shahih Sunan Ibni Majah 2/310 hadits no 3389).
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

Siapa yang memperdengarkan amalnya maka Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa akan memperdengarkan (aibnya) dan siapa yang riya` maka Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa akan akan menampakkan (aibnya pada hari Qiamat.

MACAM-MACAM SYIRIK
Para ulama berbeda pendapat dalam mengungkapkan pembagian syirik meski intinya tidak terlepas dari tiga penggunaan kata syirik yang telah dibahas di atas. Namun pembagian yang merangkum semuanya bisa kita katakan bahwa syirik terbagi menjadi dua:
1. Syirik Akbar.
Syirik ini terbagi menjadi dua:
1) Syirik yang berkaitan dengan dzat Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa atau syirik dalam rububiyah Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa. Syirik ini terbagi lagi menjadi dua:
(1) Syirik dalam tathil, seperti syirik yang dilakukan oleh Firaun dan orang-orang atheis.
(2) Syirik yang dilakukan oleh orang yang menjadikan sembahan lain selain Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa tetapi tidak menafikan asma (nama-nama), sifat-sifat dan rububiyah Nya, seperti syirik yang dilakukan oleh orang-orang Nashrani yang menjadikan Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa sebagai salah satu dari tiga Tuhan (trinitas).
2) Syirik yang berkaitan dengan ibadah kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa atau syirik dalam uluhiyyah. Syirik ini ada empat jenis: (1) Syirik dalam berdoa; yaitu berdoa kepada selain Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa.
(2) Syirik dalam niat, keinginan dan kehendak. Beramal karena ditujukan kepada selain Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa menyebabkan pahalanya hilang.
(3) Syirik dalam ketaatan; yaitu seorang hamba taat kepada makhluk dalam perbuatan mashiyat kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa. (4) Syirik dalam mahabbah; yaitu seorang hamba mencintai makhluk seperti cintanya kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa.
2. Syirik Ashghar.
Syirik Ashghar terbagi menjadi dua:
1) Yang Zhahir (tampak);
– mengerjakan amal dengan riya`. Melakukan perbuatan untuk selain Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa yang zhahir (tampak)nya untuk Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa, tetapi dalam hatinya tidak ikhlas karena Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa.
– dengan ucapan, seperti bersumpah dengan selain Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa, perkataan: Ma Syaa Allah wa Syi`ta.
2) Yang Khafiyy (samar);
Yaitu sesuatu yang kadang-kadang, terjadi dalam perkataan atau perbuatan manusia tanpa ia sadari bahwa itu adalah syirik. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Ibnu Abbas -radliyallaahu ‘anhuma- bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Syirik bagi umatku lebih halus (samar) dari pada barjalannya semut di atas batu yang licin (hitam). (Hadits ini dishahihkan oleh Syekh Al Albani dalam Shahih Al Jami Ash Shaghir, hadits no 3730 dan 3731) Karena begitu halusnya syirik ini sehingga para sahabat bertanya pada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bagaimana caranya terhindar dari syirik ini? Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Katakanlah (Bacalah) oleh kalian semua
Ya Allah, kami berlindung kepada Mu dari perbuatan (kami)
menyekutukan Mu dengan sesuatu yang kami ketahui dan kami memohon ampunan kepada Mu dari sesuatu yang tidak kami ketahui. (HR Imam Ahmad 4/403 dan Ath Thabrani dalam Mujam Kabir dan Ausathnya sebagaimana dikatakan oleh Al Haitsami 10/223-224. Al Haitsami mengatakan: Rawi-rawinya Imam Ahmad adalah rawi-rawi shahih selain Abu Ali dan ia dianggap tsiqah oleh Ibnu Hibban).
(Disarikan dari buku Syarh Nawaqidhit tauhiid, tulisan Syekh Abu Usamah Hasan bin Ali Al Awaji, Maktabatul Liinah, cet pertama, 1993-1413)

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: