Beranda > hadits seputar shalat > Sunnahnya Mengerjakan Shalat-shalat Sunnah Di Rumah, Baik pun Sunnah Rawatib Atau Lain-lainnya Dan Perintah Berpindah Untuk Bersembahyang Sunnah Dari Tempat Yang Digunakan Bersembahyang Wajib Atau Memisahkan Antara Kedua Shalat Itu Dengan Pembicaraan

Sunnahnya Mengerjakan Shalat-shalat Sunnah Di Rumah, Baik pun Sunnah Rawatib Atau Lain-lainnya Dan Perintah Berpindah Untuk Bersembahyang Sunnah Dari Tempat Yang Digunakan Bersembahyang Wajib Atau Memisahkan Antara Kedua Shalat Itu Dengan Pembicaraan

 

Sunnahnya Mengerjakan Shalat-shalat Sunnah Di Rumah, Baik pun Sunnah Rawatib Atau Lain-lainnya Dan Perintah Berpindah Untuk Bersembahyang Sunnah Dari Tempat Yang Digunakan Bersembahyang Wajib Atau Memisahkan Antara Kedua Shalat Itu Dengan Pembicaraan

1125. Dari Zaid bin Tsabit r.a. bahawasanya Nabi s.a.w. bersabda:

“Bersembahyanglah engkau semua, hai sekalian manusia, sebab sesungguhnya seutama-utama shalat itu ialah shalatnya seseorang yang dikerjakan dalam rumahnya, kecuali shalat yang diwajibkan.” (Muttafaq ‘alaih)

1126. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma dari Nabi s.a.w., sabdanya:

“Jadikanlah dari sebahagian shalatmu – yakni yang sunnah – itu di rumah-rumahmu sendiri dan janganlah menjadikan rumah-rumah itu sebagai kuburan – yakni tidak pernah digunakan shalat sunnah atau membaca al-Quran yakni sunyi dari ibadat.” (Muttafaq ‘alaih)

1127. Dari Jabir r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Jikalau seseorang di antara engkau semua itu telah menyelesaikan shalatnya di masjid, maka hendaklah memberikan sekadar bahagian dari sebahagian shalatnya – yakni yang sunnah-sunnah – untuk rumahnya, kerana sesungguhnya Allah membuat kebaikan dalam rumahnya itu kerana shalatnya tadi.” (Riwayat Muslim)

1128. Dari ‘Amr bin ‘Atha’ bahawasanya Nafi’ bin Jubair menyuruhnya pergi kepada as-Saib bin Yazid anak lelaki dari saudara perempuannya Namir, perlu menekankan padanya – yakni ‘Amr supaya bertanya kepada as-Saib – perihal sesuatu yang pernah dilihat oleh Mu’awiyah dari dirinya mengenai shalat. As-Saib lalu berkata: “Ya, saya pernah bersembahyang Jum’ah dengan Mu’awiyah di ruang dalam masjid. Ketika imam sudah bersalam, saya lalu berdiri lagi di tempatku shalat – wajib – tadi lalu saya bersembahyang sunnah. Kemudian setelah ia masuk rumah, lalu ia menyuruh saya datang padanya, kemudian berkata: “Jangan engkau mengulangi lagi sebagaimana yang engkau kerjakan tadi. Jikalau engkau shalat Jum’ah, maka janganlah engkau persambungkan di tempatmu tadi itu dengan shalat sunnah, sehingga engkau berbicara dulu atau keluar, kerana sesungguhnya Rasulullah s.a.w. menyuruh kita yang sedemikian itu, iaitu supaya tidak dipersambungkan shalat itu dengan shalat lain sehingga kita berbicara atau keluar dulu.” (Riwayat Muslim)

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: